Cerita sampul
Satu kain, enam bulan.
Ditulis oleh tim Tenun Sumba bersama kelompok penenun Kambera.
Pagi di Kambera dimulai dengan suara alat tenun gedogan yang dipukul pelan. Di bawah rumah panggung, para penenun duduk dengan kaki lurus, punggung bersandar pada tali yang menegangkan benang. Satu kain hinggi bisa memakan waktu dari musim hujan sampai musim kemarau berikutnya.
Bagian paling lama justru terjadi sebelum menenun. Benang lungsin dibentangkan, lalu sebagian diikat rapat supaya tidak terkena pewarna. Ikatan itulah yang kelak menjadi motif. Setiap pencelupan nila membuat birunya satu tingkat lebih dalam, dan tidak ada dua kain yang warnanya persis sama.
“Kalau buru-buru, warnanya tidak mau menempel. Kain mengikuti musim, bukan pesanan.”
Karena itu kami tidak menerima pesanan dengan tenggat. Setiap kain dijual setelah selesai, dan setengah dari harga jualnya langsung diterima penenun yang mengerjakannya.