Tenun Sumba

Koleksi Musim Kemarau 2026

Ditenun pelan, dipakai lama.

Setiap kain dikerjakan oleh dua belas penenun di Kambera, Sumba Timur, dengan kapas pintal tangan dan pewarna dari akar, daun, dan kulit kayu.

Lihat lookbook
Tangan penenun merapatkan benang biru dan putih di alat tenun
Satu helai selendang membutuhkan sekitar 900 jam kerja tangan.

Lookbook

  1. Selendang Hinggi Kecil

    Motif: Garis dan belah ketupat

    Kapas pintal tangan, pewarna mengkudu dan nila

    01 / 06 Selendang Hinggi Kecil Rp 1.450.000
  2. Benang Nila Celup Tujuh

    Motif: Benang lungsin sebelum ditenun

    Dicelup tujuh kali dalam rendaman daun nila

    02 / 06 Benang Nila Celup Tujuh Untuk pesanan khusus
  3. Kain Lau Mengkudu

    Motif: Bidang merah dengan garis tepi

    Tenun gedogan, 3 bulan pengerjaan

    03 / 06 Kain Lau Mengkudu Rp 3.200.000
  4. Seri Warna Sabana

    Motif: Garis lebar berlapis

    Enam warna dari kunyit, mengkudu, nila, dan lumpur

    04 / 06 Seri Warna Sabana Rp 980.000
  5. Lungsin Ikat Terbentang

    Motif: Pola diikat sebelum dicelup

    Tahap paling lama: mengikat motif helai demi helai

    05 / 06 Lungsin Ikat Terbentang Lihat proses
  6. Benang Mengkudu

    Motif: Benang pakan

    Akar mengkudu dan kulit kayu loba

    06 / 06 Benang Mengkudu Rp 240.000 per gulung

Cerita sampul

Satu kain, enam bulan.

Ditulis oleh tim Tenun Sumba bersama kelompok penenun Kambera.

Pagi di Kambera dimulai dengan suara alat tenun gedogan yang dipukul pelan. Di bawah rumah panggung, para penenun duduk dengan kaki lurus, punggung bersandar pada tali yang menegangkan benang. Satu kain hinggi bisa memakan waktu dari musim hujan sampai musim kemarau berikutnya.

Bagian paling lama justru terjadi sebelum menenun. Benang lungsin dibentangkan, lalu sebagian diikat rapat supaya tidak terkena pewarna. Ikatan itulah yang kelak menjadi motif. Setiap pencelupan nila membuat birunya satu tingkat lebih dalam, dan tidak ada dua kain yang warnanya persis sama.

“Kalau buru-buru, warnanya tidak mau menempel. Kain mengikuti musim, bukan pesanan.”

Karena itu kami tidak menerima pesanan dengan tenggat. Setiap kain dijual setelah selesai, dan setengah dari harga jualnya langsung diterima penenun yang mengerjakannya.

Bukit sabana hijau dengan lembah sungai di musim hujan
Sabana di musim hujan, saat kapas mulai berbunga dan penenun menyiapkan benang untuk musim kemarau.

Dari kapas ke kain

Kolong rumah tempat benang lungsin dibentangkan Penenun bekerja di alat tenun
  1. 1

    Memintal

    Kapas dari ladang di sekitar Kambera dipintal menjadi benang dengan alat pintal tangan.

  2. 2

    Mengikat

    Motif digambar dengan cara mengikat bagian benang lungsin yang tidak boleh terkena pewarna.

  3. 3

    Mencelup

    Benang direndam nila untuk biru dan mengkudu untuk merah, berulang kali selama berminggu-minggu.

  4. 4

    Menenun

    Benang yang sudah berwarna ditenun dengan alat tenun gedogan, sehelai demi sehelai.

Kain baru selesai setiap bulan.

Terima kasih. Di demo ini tidak ada email yang disimpan.